Hai teman-teman !!!!
Bagaimana kabar kalian ? Semoga selalu diberi
kesehatan yaa, tidak lupa juga selalu menaaati protokol kesehatan ya..
Tidak terasa sudah satu tahun Pandemi Virus Covid-19 masuk ke Indonesia, dan selama itu pula kita mengurangi aktivitas tatap muka langsung dengan lingkungan sekitar. Kita tidak bisa bertemu dengan teman teman kita secara langsung, kehilangan pekerjaan, keuangan tidak stabil, dan yang paling penting kegiatan pembelajaran di lakukan secara Daring atau Online. Pasti teman-teman juga merasakan kesedihan itu, khususnya para pelajar yang melakukan pembelajaran daring. Aku pun juga merasakan suka duka pembelajaran yang dilakukan secara daring. Nah, di blog kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang kisahku yang menjadi mahasiswa baru di Universitas Tidar pada saat masa pandemi atau era kenormalan baru.

Awal mendengar tentang adanya virus Covid-19 di
Wuhan, aku tidak berekspetasi akan menyebar sangat cepat, apalagi hingga sampai
ke Indonesia. Aku yang pada saat itu masih di bangku SMA kelas 3 sedang
sibuk-sibuknya menyiapkan ujian nasional dan juga ujian masuk perguruan tinggi
tidak terlalu mengikuti perkembangan virus Covid-19. Sehingga aku sangat
terkejut saat pemerintah mengumumkan bahwa pembelajaran dilakukan secara daring
atau online di rumah dengan tujuan untuk mencegah bertambahnya orang yang
terpapar virus Covid-19. Tidak lama setelah itu, pemerintah juga mengumumkan
bahwa ujian nasional di tiadakan, sehingga kelulusan di tentukan pada ujian
sekolah yang pada saat itu sudah dilakukan. Mendengar hal itu aku merasa sedih,
apalagi tidak dapat melakukan perayaan acara kelulusan dengan teman-teman
secara langsung.
Beberapa minggu kemudian, aku melakukan ujian masuk perguruan tinggi jalur SBMPTN ke salah satu kampus di yogyakarta. Akan tetapi, nasib baik belum memihakku aku tidak lolos dalam ujian tersebut. Hingga aku mendengar bahwa Universitas Tidar membuka ujian mandiri tahap 2. Aku langsung mendaftar dan alhamdulillahnya aku lolos ujian mandiri tahap 2 Universitas Tidar. Aku merasa sangat bersyukur sekali, karena jika tidak lolos ujian saat itu aku akan melakukan Gapyear.

Awal perkuliahan dimulai, aku merasa sedih tidak
bisa melakukan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) atau dikenal
dengan OSPEK, secara langsung. Aku melakukan PKKMB secara daring dengan
menggunakan media aplikasi zoom. Aku juga tidak mengenal teman-teman kuliahku
secara langsung atau bertatap muka, sehingga sangat sulit berkomunikasi karena
merasa canggung. Bahkan, aku baru tiga kali mengunjungi kampus pada tahun
pertama kuliah, karena memang kampus sangat ketat akan protokol kesehatan. Aku
juga belum pernah bertemu dengan dosen-dosen mata kuliah secara langsung
padahal saat ini aku sudah semester 2. Sehingga, aku belum pernah merasakan
perkuliahan yang sesungguhnya.
Perkuliahan yang dilakukan secara daring ini juga
mengharuskan mahasiswa memiliki pengetahuan teknologi agar tidak tertinggal
perkuliahan, koneksi internet yang stabil, dan perangkat yang memadai. Selain
itu, kegiatan pembelajaran juga tidak efektif karena gangguan lingkungan
sekitar yang ramai tidak kondusif. Ada beberapa dosen juga yang hanya
memberikan tugas dan materi, tanpa melakukan penyampaian materi secara
sinkronus (virtual). Akan tetapi di samping itu, ada juga lho manfaat dari
perkuliahan daring ini, diantaranya yaitu kita dapat belajar teknologi, hemat
karena tidak perlu bolak-balik ke kampus, dan masih banyak lagi.
Mungkin itu saja yang dapat aku ceritakan tentang
pengalamanku mengikuti perkuliahan daring pada tahun pertama kuliah. Semoga
Pandemi Virus Covid-19 segera menghilang dari bumi ini dan kita dapat melakukan
aktivitas normal seperti dulu. Semoga teman teman di mudahkan segala urusan dan
tercapai mimpi-mimpinya, Amin... Mohon maaf apabila ada kesalahan ataupun
menyinggung dalam penyampaian..
Terimakasih!!
*UTS Menulis
Kamis, 1 April 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar