Sabtu, 03 Juli 2021

Mengenali dan Menghindari Gangguan Mental yang Marak Terjadi di Masa Pandemi Covid-19

 “Perlunya Mengenali dan Menghindari Gangguan Mental yang Marak Terjadi di Tengah Pandemi”

Penulis : Wahyu Nida Khoiru Latifa

Tanpa kita sadari, selain kesehatan fisik, kesehatan mental seseorang ternyata juga ikut terkena dampak dari COVID-19. Apalagi di tambah dengan pemerintah yang saat ini mengeluarkan kebijakan New Normal yang diartikan sebagai  tatanan baru untuk beradaptasi dengan COVID-19. Pemerintah juga sudah memberlakukan aturan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang mana kita tidak diperbolehkan bersosialisasi secara langsung dengan orang-orang terdekat karena khawatir menciptakan Cluster baru atau penularan COVID-19. Dengan adanya PSBB ini kita mengalami gangguan dalam bersosialisasi, seperti kerja, sekolah, rapat, dan kegiatan sosial lainnya dilaksanakan melalui media online dari rumah. Kegiatan lain seperti refresing atau jalan jalan juga tidak dapat dilakukan karena adanya aturan PSBB ini, sehingga seseorang mengalami stress ketika tidak mendapat hiburan karena yang dilakukan hanya di rumah saja dengan bekerja, sekolah, atau kegiatan lainnya yang terkesan monoton.


Hal lain dari dampak dari COVID-19 yaitu pada sektor ekonomi. Banyak usaha yang terancam bangkrut dikarenakan sepi pengunjung atau konsumen, bahkan banyak perusahaan yang memangkas jumlah karyawan untuk menghindari kebangkrutan yang besar. Dampak dari perusahaan yang nyaris bangkrut bukan hanya di rasakan oleh ownernya, tetapi juga ekonomi dari karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Penghasilan yang diperoleh perusahaan di tengah pandemi seperti ini tentunya tidak banyak, maka banyak pula karyawan yang di PHK ataupun di potong gaji. Karyawan yang sudah di PHK kesusahan dalam mencari pekerjaan dan mereka juga memikirkan konsisi financial mereka bagaimana mereka bertahan hidup jika tidak memiliki penghasilan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran para pekerja dan bahkan bisa mengganggu mental mereka.


Meskipun sudah hampir 2 tahun lamanya Virus Corona atau COVID-19 ini memasuki Indonesia. Akan tetapi, rasa was was kita terhadap COVID-19 tidak sedikitpun berkurang. Bahkan kita semakin merasa terancam dengan virus ini karena sangat mematatikan dan banyak yang sudah terkena bahkan sampai meninggal. Meskipun sudah lama, tetapi kita masih merasa sulit untuk beradaptasi dengan virus mematian ini. Tetapi di sisi lain mau tidak mau kita juga harus membiasakan diri untuk beradaptasi dengan COVID-19. Kita juga harusnya menanggapi COVID-19 ini dengan hal hal yang positif agar kesehatan mental kita tidak ikut terganggu.

Di masa pandemi COVID-19 ini, banyak yang mengalami gangguan mental atau psikis tanpa di sadari oleh individu tersebut. Mengapa terjadi gangguan mental di masa pandemi? Hal itu terjadi karena kita ketakutan terhadap wabah, selain itu rasa terasing muncul ketika kita menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga atau orang yang dikasihi, dan yang paling penting biasanya kita kebingungan akibat informasi yang simpang siur atau tidak jelas. Hal-hal tersebut tidak hanya berdampak pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan umum, namun juga dapat memengaruhi orang yang sehat secara fisik dan mental. Apalagi untuk usia lansia yang rentan mengalami gangguan mental, dan petugas medis yang mana bertugas memeriksa orang yang mengidap COVID-19.


Menurut alomedika.com terdapat penelitian mengenai gangguan mental yang terjadi di masa pandemi COVID-19, penelitian ini dilakukan di Tiongkok, Hong Kong, Macau, dan Taiwan, yang melibatkan 52.730 responden. Hasil penelitian tersebut menunjukkan beberapa faktor yang berperan meningkatkan gangguan mental, seperti peningkatan gangguan cemas menyeluruh, panik, dan depresi, yaitu:

  • Jenis kelamin perempuan lebih rentan mengalami stres dan dapat mengalami post traumatic stress disorder atau di singkat PTSD.
  • Usia 18-30 tahun atau diatas 60 tahun lebih rentan, karena usia 18-30 tahun merupakan usia produktif dan lebih banyak mendapatkan informasi dari sosial media sehingga meningkatkan terjadinya stres. Sementara, tingginya tingkat kematian pada pasien berusia diatas 60 tahun membuat terjadinya gangguan mental yang meningkat pada kelompok usia tersebut
  • Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan self-awareness terhadap kesehatan yang lebih tinggi, sehingga mereka mudah mengalami stres
  • Pekerja yang bermigrasi mengalami peningkatan distres terkait kekhawatiran risiko penularan dari transportasi publik, serta penurunan pendapatan akibat penundaan atau pengurangan pekerjaan
  • Masyarakat yang tinggal di dekat dengan regio sentral kasus tertinggi

Hal lain yang juga mempengaruhi tingkat distres psikologis atau gangguan mental di masa pandemi COVID-19, adalah tersedianya sumber daya kesehatan, efisiensi sistem kesehatan publik, serta tindakan mengontrol dan preventif yang dilakukan pemerintah terhadap situasi pandemik tersebut. Dikarenakan sektor perekonomian pemerintah menurun maka tersedianya sumber daya kesehatan kurang memadai dan juga kekurangan tenaga medis.

Jadi, kita juga perlu untuk mengetahui ciri-ciri dari gangguan mental akibat COVID-19. Tekanan yang berlangsung selama pandemi ini dapat menyebabkan gangguan mental seperti :

  • Ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Hal tersebut biasanya terjadi pada seseorang yang circle sosialnya sudah banyak yang terjangkit sehingga menjadi merasakan ketakutan berlebih.
  • Perubahan pola tidur dan pola makan dikarenakan terlalu bingung dirumah terus dan menurutnya sangat monoton, sehingga menimbulkan rasa malas dan menyebabkan pola makan dan tidur berantakan.
  • Bosan dan stres karena terus-menerus berada di rumah, terutama pada anak- anak. Di masa anak-anak seharusnya mereka bertumbuhkembang dengan bermain bersama teman sebayanya. Akan tetapi di masa pandemi ini mestinya orang tua takut anaknya terkena virus corona apabila membiarkan anaknya untuk keluar rumah, apalagi bergerombol.
  • Sulit berkonsentrasi. Menurut kompas.com hal yang membuat kita sulit untuk berkonsentrasi dikarenakan gaya hidup seperti kurang tidur, kondisi lapar, kegelisahan, hingga stres berlebih. Hal-hal tersebutlah yang terjadi ketika kita berada di masa pandemi COVID-19.
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Terdapat beberapa orang yang merasa dirinya terlalu di kekang dengan melampiaskan ke alkohol dan obat obatan yang berlebihan. Hal tersebut terjadi karena jika sudah melakukannya mereka merasa tenang.
  • Memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi. Salah satu penyebab kesehatan fisik memburuk karena mempunyai pikiran yang berlebihan seperti takut terserang covid dan pikiran lainnya hingga stress dan menyebabkan imun tubuh menurun. Hal tersebut mengakibatkan kesehatan memburuk.
  • Munculnya gangguan psikosomatis. Penyakit ini merupakan penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau menjadi bertambah parah. Psikomatis yang biasanya terjadi di masa pandemi COVID-19 diantaranya sakit kepala, nafsu makan yang menurun, batuk, bersin dan sebagainya.

Setelah kita mengetahui dari beberapa ciri-ciri dari gangguan mental di masa pandemi COVID-19. Maka harusny kita juga mengetahui apa saja tips untuk menjaga kesehatan mental selama  masa pandemi COVID-19. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental selama masa pandemi COVID-19 :

  1. Memperbanyak aktivitas fisik. Kita bisa di rumah melakukan beberapa olahraga ringan dirumah, seperti yoga, pilates, olahraga lantai, push up, sit up, dan lain sebagainya. Bahkan akhir-akhir ini banyak mentor olahraga yang melakukan sesi online dengan menggunakan zoom meeting. Kita juga dapat melakukan aktivitas fisik dengan bersih-bersih rumah ataupun mencuci baju, kendaraan, dan perkakas lainnya. Atau opsi lainnya kita berjemur di luar ruangan agar mendapat sinar matahari yang sangat bagus untuk kesehatan, dengan berjemur di luar ruangan kita juga bisa me-refresh otak kita. Akan tetapi jika diluar ruangan alangkah baiknya jika menggunakan masker dan menaati protokol kesehatan. Dengan melakukan aktivitas fisik, tubuh kita akan lebih banyak memproduksi hormon endorfin yang dapat meredakan stres, mengurangi rasa khawatir, dan yang lebih penting dapat memperbaiki mood kita.
  2. Menyusun kegiatan/rutinitas sendiri. Sebaiknya selama menjalani karantina di rumah, kita bisa hobi atau aktivitas yang kita sukai, misalnya memasak, membaca buku, atau menonton seri film. Hal tersebut membuat kita di jauhkan dari negatif thinking dan juga menaikkan mood kita. Selain meningkatkan mood dan produktivitas, kegiatan tersebut juga dapat menghilangkan rasa jenuh karena karantina di rumah.
  3. Mengonsumsi makanan bergizi. Kita sebaiknya di masa pandemi COVID-19 ini di anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna seperti protein yang bisa di akali dengan telur, lemak sehat dengan mengkonsumsi daging-dagingan, karbohidrat dengan makan nasi atau cereal, vitamin yang bisa berupa buah dan sayuran ataupun berbentuk obat, mineral merupakan hal yang paling penting karena dengan memperbanyak air minum imun tubuh kita semakin kuat, dan yang terakhir yaitu serat bisa berupa roti. Di masa pandemi COVID-19 ini sebaiknya kita juga menjaga imun tubuh kita dengan beragam obat vitamin dan juga nutrisi dari susu. Bukan hanya untuk menjaga kesehatan tubuh kita, asupan nutrisi yang cukup juga dapat menjaga kesehatan mental kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  4. Menghilangkan kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang di maksud misal kita memiliki kebiasaan jorok hanya mandi sekali sehari. Itu sebaiknya harus kita ubah agar tidak terkena resiko penularan virus corona. Atau mungkin kebiasaan tidak membersihkan rumah dan mencuci baju bagi orang tertentu. Karena di masa pandemi COVID-19 ini resiko penularan juga bisa terjadi melalui laundry jika tempat laundry tersebut tidak disterilisasikan.
  5. Dapat memilah informasi yang terpercaya dan tepat. Di masa pandemi COVID-19 ini banyak berita yang tidak tau asal usulnya atau bisa dikatakab hoax tidak jelas. Sehingga lebih baik jika kita membatasi waktu kita untuk menonton, membaca, ataupun mendengar berita mengenai virus corona ini, baik melalui media televisi, media cetak, maupun media sosial. Hal tersebut nyatanya sangat berguna karena mengurangi rasa cemas kita kepada pemikiran yang berlebihan akan virus corona ini. Meskipun begitu, jangan terlalu menutup diri atau mengabaikan sepenuhnya dari informasi yang penting. Kita sebaiknya memilah  informasi yang akan kita terima secara kritis dan bijak. Dengan mendapatkan informasi mengenai pandemi virus corona ini hanya dari sumber yang terpercaya.
  6. Menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat melalui teknologi. Bagaimana caranya meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, teman, dan rekan kerja di tengah masa pandemi COVID-19 ini yang mana harus mengikuti aturan PSBB? Di masa yang mana saat ini teknologi sudah canggih kita dapat berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, teman, mapun rekan kerja kita melalui pesan whatsapp, telepon, maupun video call. Kita pun bisa melihat mereka ataupun mengabadikan momen kita dengan bermedia sosial seperti instagram, facebook, whatsapp, tiktok, dan media sosial lainnya. Kita juga bisa menceritakan kekhawatiran, kebosanan, ataupun kecemasan yang kita rasakan kepada orang-orang terdekat kita. Dengan cara ini, tekanan yang kita rasakan dapat berkurang dan menjadikan kita bisa lebih tenang dalam mengahadapi virus corona ini.

Di masa pandemi COVID-19 ini banyak sektor yang terdampak selain sektor kesehatan, akan tetapi dampaknya sampai pada sektor ekonomi dan pariwisata yang menyebabkan banyak karyawan diberhentikan atau di PHK karena perusahaan dan pariwisata mengalami kerugian atau bangkrut. Dikarenakan hal tersebut pengangguran di Indonesia semakin meningkat dan timbul kecemasan para karyawab baik yang belum di PHK maupun yang sudah di PHK. Kecemasan yang berlebihan itu berupa bagaimana kelanjutan financial mereka kedepannya dan kecemasan ini dapat mengakibatkan gangguan mental. Gangguan mental tersebut dapat berupa peningkatan gangguan cemas menyeluruh, panik, dan bahkan depresi. Terdapat beberapa golongan orang yang rawan terkena gangguan mental. Terdapat ciri-ciri yang terjadi jika mengalami gangguan mental diantaranya ketakutan dan kecemasan yang berelebihan, perubahan pola tidur dan pola makan, bosan dan stress, sulit berkonsentrasi, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, memburuknya kesehatan fisik, dan juga gangguan psikosomatis. Akan tetapi gangguan mental dapat dihindari dengan beberapa tips diantaranya melakukan aktifitas fisik, menyusun kegiatan/rutinitas sendiri, mengkonsumsi makanan bergizi, menghilangkan kebiasaan buruk, dapat memilah informasi yang terpercaya dan tepat, dan yang paling penting tetap melakukan komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat.

Dengan demikian, diperlukan kesadaran perilaku yang tepat dalam menyikapi COVID-19 ini agar tidak semakin banyak gangguan mental yang terjadi. Kita seharusnya tetap menaati protokol kesehatan agar terhindar dari kemungkinan COVID-19 ini. Lebih pentingnya kita harus berpikiran positif jangan berpikir kemungkinan buruk saja tapi kita juga bisa berpikir hal positifnya seperti lebih sering di rumah, banyak waktu luang bersama keluarga, dan banyak hal lain yang patut kita syukuri dari dampak COVID-19 ini. 


Mengenali dan Menghindari Gangguan Mental yang Marak Terjadi di Masa Pandemi Covid-19

  “Perlunya Mengenali dan Menghindari Gangguan Mental yang Marak Terjadi di Tengah Pandemi” Penulis : Wahyu Nida Khoiru Latifa Tanpa kit...